Ditjen PE2HU Perkuat Ekosistem Ekonomi Haji, Potensi Capai Rp80 Triliun per Tahun

PORTAL KOTA-Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (Ditjen PE2HU) Kementerian Haji dan Umrah terus memperkuat pengembangan ekosistem ekonomi haji.

Melalui berbagai program strategis guna mengoptimalkan nilai manfaat penyelenggaraan ibadah haji bagi perekonomian nasional.

Berdasarkan keterangan yang dilansir dari laman resmi Kementerian Haji, upaya tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ditjen PE2HU yang berlangsung di Jakarta, Senin (6/7).

Baca lainnya:

DPR: Penurunan Pendapatan Kekayaan Negara Dipisahkan Bukan Kerugian Negara

Direktur Jenderal PE2HU Jaenal Effendi mengatakan Indonesia memiliki potensi ekonomi haji dan umrah yang sangat besar. Nilai gabungan ekonomi haji dan umrah diperkirakan mencapai sekitar Rp80 triliun per tahun sehingga perlu dioptimalkan melalui pengembangan ekosistem yang terintegrasi.

“Pengembangan ekosistem ekonomi haji merupakan upaya untuk memastikan penyelenggaraan haji tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pelayanan ibadah, tetapi juga menghadirkan nilai tambah bagi perekonomian nasional melalui peningkatan keterlibatan produk, jasa, dan pelaku usaha dalam negeri,” ujarnya.

Salah satu strategi yang terus diperkuat adalah peningkatan penetrasi produk lokal untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan haji dan umrah. Langkah tersebut diwujudkan melalui ekspor 28 jenis bumbu Nusantara dengan volume lebih dari 300 ton serta penyediaan sekitar 3,1 juta paket makanan saji.

Pada sektor transportasi dan pariwisata, Ditjen PE2HU juga mengoptimalkan pemanfaatan penerbangan pulang tanpa penumpang (empty flight) untuk mendukung kunjungan wisatawan dari kawasan Timur Tengah ke Indonesia.

Hingga saat ini, inisiatif tersebut telah melayani 1.723 penumpang dan akan terus dikembangkan guna memperluas dampak ekonomi pada masa mendatang. Program tersebut dijalankan melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Selain itu, penguatan ekosistem ekonomi haji dilakukan melalui pendekatan investasi dari hulu hingga hilir, termasuk penguatan sistem pengadaan dan penyaluran produk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan jamaah.

Pengembangan tersebut sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha nasional untuk berperan dalam rantai nilai haji dan umrah dengan potensi keterlibatan sekitar 30 hingga 40 persen. Di sisi lain, Platform Ekonomi Haji terus dikembangkan untuk mendukung integrasi ekosistem secara digital.

Jaenal menegaskan, pengembangan ekosistem ekonomi haji hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi yang kuat antarpemangku kepentingan.

Karena itu, Ditjen PE2HU terus memperkuat sinergi lintas sektor guna memperkuat rantai pasok nasional, mendorong investasi, meningkatkan daya saing produk dalam negeri, serta memperluas manfaat ekonomi haji bagi masyarakat.

Baca lainnya:

Aero Astra Akademia Jadi Satu-satunya TUK Perhotelan di Tulang Bawang, Lulusan Terserap di Hotel Berbintang

“Ekosistem ekonomi haji tidak dapat dibangun oleh satu pihak. Sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk memperkuat rantai pasok nasional, membuka peluang investasi, meningkatkan daya saing produk dalam negeri, serta menghadirkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat,” jelasnya.

Melalui Rakernas tersebut, Ditjen PE2HU menegaskan komitmennya untuk memperkuat implementasi berbagai program strategis pengembangan ekosistem ekonomi haji.

Sekaligus mempererat sinergi lintas sektor guna mengoptimalkan potensi ekonomi haji dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional. (Ris)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *