PORTAL KOTA-Stasiun Gambir bersiap memasuki babak baru. Tidak lagi hanya menjadi tempat keberangkatan kereta api jarak jauh.
Dalam keterangan resmi PT Kereta Api Indonesia, stasiun legendaris di pusat Jakarta itu akan dikembangkan sebagai kawasan transportasi modern yang terintegrasi dengan berbagai moda angkutan umum sekaligus menjadi pusat aktivitas masyarakat.
Transformasi yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia (Persero) tersebut dirancang untuk menghubungkan layanan kereta api jarak jauh dengan jaringan Commuter Line, MRT, TransJakarta, hingga akses pejalan kaki menuju kawasan Monumen Nasional (Monas).
Baca lainnya:
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menegaskan bahwa pengembangan Gambir tidak akan menggeser peran Stasiun Manggarai.
“Gambir kami siapkan sebagai gerbang utama KA Jarak Jauh di pusat kota sekaligus terhubung dengan kawasan Monas dan jaringan transportasi publik Jakarta. Sementara Manggarai tetap menjadi simpul utama perpindahan antarlintas. Keduanya memiliki fungsi yang saling melengkapi,” ujarnya.
Saat ini, Stasiun Gambir melayani 34 perjalanan kereta api jarak jauh setiap hari, sementara jalur layangnya dilintasi 326 perjalanan Commuter Line Bogor Line.
KAI masih mengkaji pembukaan layanan naik dan turun penumpang KRL di Gambir dengan mempertimbangkan aspek keselamatan, kesiapan infrastruktur, kapasitas lintas, dan integrasi antarmoda.
Kebutuhan pengembangan tersebut tidak lepas dari meningkatnya mobilitas masyarakat Jabodetabek. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah perjalanan Commuter Line tumbuh lebih dari 58 persen, sehingga peningkatan kapasitas layanan menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
Baca lainnya:
Namun, transformasi Gambir tidak berhenti pada aspek transportasi. KAI juga menyiapkan konsep Modern Station & Lifestyle Hub yang memadukan mobilitas, ruang publik, hingga aktivitas ekonomi dalam satu kawasan.
Berbagai fasilitas baru akan dihadirkan, mulai dari area kuliner, pusat ritel, lounge, hotel, ruang pertemuan, rooftop park, hingga jalur pedestrian yang terhubung langsung dengan kawasan Monas.
“Kami ingin pelanggan merasakan kemudahan sejak memasuki stasiun, mengetahui dengan jelas alur perjalanan, berpindah moda dengan mudah, hingga menikmati fasilitas yang semakin lengkap. Itulah pengalaman yang sedang kami bangun di Gambir,” kata Bobby.
Langkah tersebut juga menjadi strategi perusahaan dalam memperkuat sumber pendapatan non-tiket. Saat ini, sekitar 96 persen pendapatan KAI masih berasal dari layanan kereta api sehingga pengembangan kawasan komersial dinilai mampu menciptakan nilai tambah.
Ekosistem bisnis di Stasiun Gambir kini telah diisi 132 tenant dari berbagai sektor. Pengembangan berikutnya diperkirakan membuka ratusan unit usaha baru dan menciptakan sekitar 500 hingga 1.000 lapangan kerja.
Direktur Keuangan dan Umum KAI Indarto Pamoengkas mengatakan kondisi keuangan perusahaan memberikan ruang untuk terus meningkatkan kualitas layanan.
Baca lainnya:
“Sepanjang Tahun Buku 2025, total aset KAI Group mencapai Rp105,43 triliun, sementara laba tahun berjalan sebesar Rp2,28 triliun. Hal tersebut menjadi modal bagi perusahaan untuk terus berinvestasi pada keselamatan, keandalan operasional, serta peningkatan layanan pelanggan,” katanya.
Melalui transformasi tersebut, KAI berharap Stasiun Gambir menjadi wajah baru transportasi publik Indonesia sekaligus ruang publik yang mampu menggerakkan aktivitas ekonomi di pusat Jakarta.
“Kami ingin setiap pengembangan menghadirkan manfaat nyata. Gambir kami siapkan menjadi stasiun yang lebih mudah diakses, nyaman digunakan, terintegrasi dengan pusat Jakarta, sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat dan perekonomian kawasan,” tutup Bobby. (fit)









