PORTAL KOTA-SMA Negeri 2 Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 bagi peserta didik baru mulai Senin (13/7/2026).
Kegiatan tersebut diikuti 390 siswa baru yang terdiri atas 178 siswa laki-laki dan 212 siswa perempuan.
Ketua MPLS SMA Negeri 2 Kota Tangerang Selatan, Eko, mengatakan pelaksanaan MPLS tahun ini mengalami sejumlah perubahan dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca lainnya:
Perubahan tersebut mengacu pada ketentuan terbaru dalam Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2026.
“Pertama, MPLS dilaksanakan selama lima hari. Sebelumnya hanya tiga hari, sedangkan tahun ini berlangsung mulai 13 Juli hingga 17 Juli 2026,” ujar Eko kepada awak media di sekolah, Senin (13/7/2026).
Selain durasi pelaksanaan yang lebih panjang, kata dia, materi MPLS juga dibagi menjadi materi wajib dan materi pilihan.
Materi wajib meliputi program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, Pagi Ceria, serta penguatan budaya sopan santun.
“Sementara materi pilihan disesuaikan dengan karakteristik sekolah, misalnya pengenalan Sekolah Adiwiyata sebagai salah satu ciri khas sekolah,” jelasnya.
Eko menambahkan, MPLS Ramah 2026 juga memperkuat kolaborasi antara sekolah dengan orang tua siswa.
Melalui kolaborasi tersebut, sekolah memberikan sosialisasi mengenai tata tertib, jadwal kegiatan, hingga berbagai informasi penting agar orang tua turut mendukung proses adaptasi peserta didik baru.
“Kolaborasi ini bertujuan untuk menyosialisasikan kegiatan MPLS, mulai dari tata tertib, jadwal, hingga berbagai informasi lainnya kepada orang tua,” ungkapnya.
Perbedaan lainnya adalah adanya pemetaan minat dan bakat peserta didik melalui sejumlah asesmen.
“Asesmen yang dilakukan meliputi sosial-emosional, pengukuran indeks massa tubuh, hingga pemeriksaan fleksibilitas tubuh siswa,” terangnya.
Baca lainnya:
Selain itu, sekolah juga menerapkan konsep Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) selama pelaksanaan MPLS.
Menurut Eko, penerapan BSAN bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta bebas dari praktik perpeloncoan maupun kekerasan.
“Tidak ada tindak perpeloncoan, tidak ada tindak kekerasan. Kami ingin memberikan rasa aman kepada siswa baru sehingga mereka merasa sekolah ini adalah rumah kedua,” tutupnya. (Ris)












