Bukan Sekedar Hunian, Rumah Blandongan Tangsel juga Berfungsi Sebagai Ruang Sosial

Portalkota – Di tengah pesatnya pembangunan dan urbanisasi di Tangerang Selatan (Tangsel), seorang periset dan kurator, Diaz Ramadhansyah, mengkhawatirkan identitas asli Betawi Ora (Betawi di Tangsel) makin terkubur.

Ia pun melakukan penelitian mendalam terhadap rumah blandongan, arsitektur tradisional Betawi yang kini terancam punah.

Keresahan Personal: Identitas Tangsel Terkubur Pembangunan

Diaz, yang tinggal di Tangsel sejak tahun 80-an, menceritakan latar belakang penelitiannya dalam kegiatan ‘Pameran Riset Visual: Blandongan Menyigi Akulturasi, Arsitektur Betawi Ora di Tangerang Selatan’ di Pondok Aren, Kamis 14 Mei 2026.

“Saya semakin melihat Tangerang Selatan berkembang pesat. Namun dari semua pembangunan masif itu, saya khawatir sekali identitas asli Betawinya Tangsel lama-lama makin terlupakan. Saya merasa perlu membangkitkannya lagi ke permukaan supaya Tangsel punya identitas yang jelas dan kuat,” ujarnya.

Baca Lainnya: 

IPM Tangsel Nomor Satu Se-Banten, Pilar: Peran Pesantren Sangat Besar

Generasi Kedua-Ketiga Masih Otentik, Banyak Pengetahuan Leluhur Terkuak

Setelah meneliti tiga rumah blandongan, Diaz mengaku banyak mendapatkan pelajaran baru.

“Narasumber yang saya wawancarai adalah generasi kedua dan ketiga, jadi masih sangat otentik. Pengetahuan dari leluhur yang bahkan saya belum pernah dengar, semuanya terkuak. Itu mengubah cara saya memahami bagaimana etnis Betawi itu sebenarnya,” jelasnya.

Ciri Khas: Identitas Agraris Kuat, Warna Alam, Material Kayu hingga Bambu, dan Sederhana

Diaz menjelaskan ciri khas rumah blandongan di Tangsel. Menurutnya, Betawi umumnya kuat dengan warna cerah seperti kuning, hijau, merah.

“Namun khusus di Betawi Ora Tangsel, nuansa agrarisnya sangat kental. Banyak memakai warna-warna alam, material dari alam seperti kayu dan bambu, serta sangat bersahaja secara arsitektur. Pembagian ruangnya efisien, tidak berlebihan tapi cukup,” terangnya.

Zonasi Rumah Blandongan: Ruang Komunal, Ruang Utama, Dua Kamar, hingga Dapur

Ia memaparkan pembagian ruang rumah blandongan dengan zonasinya yang jelas. Dimana, Paling depan ada ruang blandonga tanpa sekat, tanpa pintu, tanpa tembok.

”Itu benar-benar ruang komunal untuk berkumpul. Kemudian ada ruang utama (keluarga), lalu dua kamar. Satu kamar utama dan satu kamar yang disebut ‘pangkeng’ multifungsi, bisa untuk tidur sekaligus menyimpan hasil alam seperti gabah dan padi. Di bagian belakang ada ‘pendaringan’ atau dapur. Sesimpel itu,” paparnya.

Nilai Luhur: Semangat Kedermawanan, Kesetaraan, dan Demokratis

Namun, yang paling mengesankan Diaz adalah nilai-nilai luhur yang terkandung dalam rumah blandongan.

Dijelaskannya, Rumah blandongan dibangun dengan semangat kedermawanan, spirit untuk berbagi kepada sesama, bahkan kepada orang yang tidak dikenal.

“Juga semangat kesetaraan dan demokratis. Betawi Ora Tangsel sangat mulia karena mereka tidak pernah menaruh curiga kepada siapa pun. Dengan tangan terbuka, mereka menerima kedatangan siapa pun selama dengan niat dan tujuan baik,” ungkapnya.

Baca Lainnya: 

Tangsel Konsisten Tangani HIV/AIDS, Benyamin: Hilangkan Stigma terhadap ODHA

Harapan: Jadi Cagar Budaya, Generasi Muda Tahu Identitas Tangsel

Diaz berharap penelitiannya bisa melahirkan tindak lanjut dari pemerintah untuk melestarikan rumah blandongan.

Dirinya mengaku khawatir karena Rumah Blandongan menghadapi ancaman kepunahan.

“Sayang sekali bila sampai punah dan kita tidak memiliki arsip atau dokumentasi. Saya harap ini bisa ditetapkan sebagai cagar budaya. Saya juga ingin lebih banyak generasi muda mengetahui bahwa Tangsel punya identitas yang kuat, bahwa ada Betawi Ora Tangsel, dan bahwa kita bukan wilayah tanpa identitas,” tutupnya.

Di tengah gempuran modernitas, rumah blandongan berdiri sebagai bisu penanda sejarah. Namun tanpa upaya pelestarian yang serius, identitas itu bisa lenyap ditelan waktu.(uci)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *