PORTAL KOTA – Gangguan komunikasi radio, pergeseran koordinat GPS, hingga ketidaknormalan perangkat satelit ternyata tidak selalu disebabkan oleh kerusakan teknis ataupun sabotase. Aktivitas Matahari yang berlangsung jauh dari permukaan bumi juga dapat memengaruhi sistem teknologi tersebut melalui fenomena yang dikenal sebagai cuaca antariksa.
Ancaman ini menjadi perhatian karena aktivitas Matahari dapat memicu perubahan kondisi lingkungan antariksa yang berdampak pada komunikasi radio, navigasi berbasis satelit, hingga jaringan kelistrikan. Seiring meningkatnya ketergantungan manusia terhadap teknologi, pemahaman mengenai cuaca antariksa menjadi semakin penting untuk mengantisipasi potensi gangguan.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Antariksa, Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Tiar Dani, menjelaskan cuaca antariksa merupakan kondisi lingkungan antariksa yang dipengaruhi aktivitas Matahari, berupa aliran plasma, partikel bermuatan, radiasi elektromagnetik, serta interaksinya dengan medan magnet bumi.
Baca Lainnya:
Berbeda dengan cuaca di permukaan bumi yang berkaitan dengan udara, uap air, suhu, dan tekanan atmosfer, cuaca antariksa tidak berupa hujan atau perubahan suhu udara yang biasa dirasakan manusia. Fenomena ini berkaitan dengan aliran energi dan partikel bermuatan yang berasal dari Matahari.
“Fenomena tersebut dapat memicu badai geomagnetik, kemunculan aurora, gangguan komunikasi radio, perubahan kondisi orbit satelit, hingga gangguan pada sistem navigasi berbasis satelit. Karena itu, pemahaman cuaca antariksa menjadi penting seiring meningkatnya ketergantungan masyarakat dan berbagai sektor strategis terhadap teknologi berbasis satelit dan jaringan elektronik,” kata Tiar, Selasa (20/10/2026).
Hal tersebut disampaikan dalam Pelatihan Dasar Space Situational Awareness 2026 yang diselenggarakan BRIN bersama Satuan Antariksa TNI Angkatan Udara pada 19-22 Oktober 2026 di Gedung B.J. Habibie, Jakarta.
Tiar menerangkan terdapat empat fenomena utama cuaca antariksa yang perlu diperhatikan, yakni angin surya, ledakan Matahari, lontaran massa korona, dan partikel energetik Matahari. Keempat fenomena tersebut memiliki karakteristik berbeda, tetapi sama-sama berkaitan dengan aktivitas Matahari yang dapat memengaruhi lingkungan antariksa.
Salah satu dampaknya berkaitan dengan perubahan kondisi ionosfer yang dapat menurunkan akurasi sistem navigasi berbasis GPS. Akibatnya, koordinat posisi yang dihasilkan berpotensi mengalami pergeseran. Gangguan juga dapat memengaruhi komunikasi radio, terutama pada sisi bumi yang sedang mengalami siang hari.
Tidak hanya komunikasi dan navigasi, aktivitas cuaca antariksa juga dapat berdampak pada satelit yang mengorbit bumi. Badai geomagnetik dapat meningkatkan hambatan atmosfer terhadap satelit di orbit rendah sehingga memengaruhi ketinggian orbit dan kebutuhan koreksi lintasan. Perubahan medan magnet bumi juga berpotensi menimbulkan arus listrik induksi yang dapat mengganggu jaringan kelistrikan.
Baca Lainnya:
“Salah satu tantangan dalam menghadapi gangguan sistem komunikasi dan navigasi adalah memastikan penyebab gangguan secara tepat. Aktivitas cuaca antariksa menjadi salah satu kemungkinan yang perlu diperiksa, terutama apabila gangguan tersebut terjadi setelah meningkatnya aktivitas Matahari,” jelasnya.
Untuk memperkuat kemampuan mengenali potensi gangguan, BRIN bersama TNI AU membahas sejumlah skenario melalui simulasi tabletop exercise, pohon keputusan, serta standar operasional prosedur diagnosis gangguan di lapangan.(uci)
Informasi dalam berita ini disusun berdasarkan siaran pers yang dipublikasikan melalui laman resmi BRIN













