PORTAL KOTA-Gunungapi Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh pada Sabtu, 5 September 2026. Fenomena erupsi ini berupa “lava fountain” atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava, dengan semburan warna merah menyala yang terlihat jelas secara menerus.
Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Lana Saria, melaporkan seri erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik terus berlangsung sejak 2 Juli 2026, ketika status aktivitas Gunung Anak Krakatau dinaikkan ke Level III (Siaga).
Baca lainnya:
“Setelah 22 Desember 2018, seri erupsi berskala rendah terus berlangsung sebagai fase konstruksi pertumbuhan kembali Gunungapi Anak Krakatau hingga 16 Desember 2023. Jeda erupsi cukup lama berlangsung hingga kembali menghasilkan erupsi tanggal 2 Juli 2026,” ujar Lana.
Pada tanggal 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunungapi Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai dengan suara gemuruh. Hingga pukul 04.40 WIB, erupsi masih berlangsung dan gemuruh masih terdengar dari Pos PGA Krakatau Pasauran.
“Tinggi kolom erupsi tidak teramati, akan tetapi warna merah menyala semburan erupsi terlihat jelas secara menerus. Fenomena erupsi ini menyerupai lava fountain atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava,” jelas Lana.
Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan.
Hasil Evaluasi dan Potensi Bahaya
Berdasarkan hasil evaluasi, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif.
Hingga saat ini, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau masih dalam Level III (Siaga). Potensi ancaman bahaya erupsi saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertai dengan lontaran batu pijar.
Rekomendasi Teknis Level III (Siaga):
- Masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas.
- Meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.
- Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat.
Baca lainnya:
“Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur adalah fenomena umum yang sering terjadi,” pungkas Lana. (Eka)
Informasi dalam berita ini disusun berdasarkan siaran pers yang dipublikasikan melalui laman resmi Badan Geologi Kementerian ESDM RI.











3 komentar