PORTAL KOTA-Primaya Hospital menyelenggarakan seminar “Jangan Malu, Saatnya Bicara Perimenopause” berkolaborasi dengan Yoona Women, Martha Tilaar SPA, dan Blibli di Jakarta, Jumat (18/7).
Seminar ini menghadirkan dokter spesialis dari berbagai disiplin ilmu serta praktisi untuk membahas perubahan hormonal, kesehatan fisik dan mental, nutrisi, kulit, olahraga, hingga pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan.
Kolaborasi lintas sektor ini menjadi sorotan dalam pelaksanaan seminar. CEO Primaya Hospital Group, Leona A. Karnali, CFA, FRM, menyampaikan bahwa pendekatan multidisiplin diperlukan.
Baca lainnya:
Karena perubahan selama perimenopause tidak hanya berkaitan dengan hormon, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup secara keseluruhan.
“Melalui pendekatan multidisiplin, kami ingin membantu perempuan memahami kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga medis agar tetap sehat, percaya diri, dan produktif di setiap fase kehidupannya,” ujarnya.
Materi pertama disampaikan Dr. dr. Martina Hutabarat, Sp.OG, yang menjelaskan bahwa perimenopause merupakan fase transisi menuju menopause dengan rata-rata usia mulai 47,5 tahun dan menopause pada 51,3 tahun.
Dengan angka harapan hidup perempuan mencapai sekitar 85 tahun, hampir sepertiga kehidupannya dijalani pada fase klimakterik.
Dari sisi nutrisi, Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, Sp.GK., Subsp.PK menekankan pentingnya pola makan bergizi seimbang untuk menjaga metabolisme, massa otot, serta menurunkan risiko penyakit kronis selama perimenopause.
Sementara dr. Feliani, Sp.Ak menjelaskan bahwa akupuntur medis kini sejalan dengan perkembangan medis dan dapat membantu menyeimbangkan serta mengembalikan vitalitas tubuh.
Perubahan kulit dan rambut juga menjadi fokus pembahasan. Dr. dr. Komang Ardi Wahyuningsih, M.Biomed., Sp.KKLP., Subsp. FOMC menjelaskan bahwa penurunan estrogen menyebabkan berkurangnya produksi kolagen dan elastin.
Sekitar 30 persen kolagen kulit dapat hilang dalam lima tahun pertama setelah menopause, kemudian terus berkurang sekitar 2 persen setiap tahun, sementara rambut menjadi lebih tipis akibat memendeknya fase pertumbuhan.
Aktivitas fisik disoroti dr. Gustiawaty Army, Sp.KFR yang mengungkapkan data sekitar 72,9 persen perempuan menopause mengalami gangguan dasar panggul yang memengaruhi kualitas hidup.
Menurutnya, aktivitas fisik rutin dan bertahap berperan penting menjaga kekuatan otot dan kesehatan tulang.
Kesehatan mental menjadi perhatian dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ., MSc. Ia menjelaskan bahwa perubahan suasana hati merupakan respons alami akibat perubahan hormon yang sering terjadi bersamaan dengan berbagai tekanan hidup.
Ia mengajarkan metode STOP (Stop sejenak, Tarik napas perlahan, Observasi, dan Pilih respons yang membantu) sebagai langkah sederhana mengelola stres.
Baca lainnya:
Seminar ini juga menghadirkan pengalaman langsung dari perempuan yang pernah menjalani fase perimenopause.
Susanna Angraini, CEO & Co-Founder Yoona Women, menyoroti masih tabunya isu perimenopause dan menstruasi sehingga perempuan enggan membicarakannya.
“Kita perlu mulai membuka percakapan agar perempuan tidak merasa sendirian dan lebih memahami tubuhnya,” katanya.
Dari sisi perawatan holistik, Wulan Maharani Tilaar, President Director Martha Tilaar SPA, mengajak perempuan memandang perimenopause sebagai fase untuk merawat diri secara holistik agar tetap sehat, bahagia, dan percaya diri.
Lisa Widodo, COO & Co-Founder Blibli, menutup diskusi dengan menekankan bahwa perimenopause bukan akhir produktivitas perempuan.(Uci)







