RS Hermina Serpong Gelar Seminar Kesehatan Awam

Portalkota – Rumah Sakit Hermina Serpong menggelar seminar kesehatan awam bertajuk “Integrasi Layanan Poli Penyakit Dalam dan Pendekatan Holistik dalam Penanganan Neuropati Diabetik” di RS Hermina Serpong, Jumat 13 Februari 2026.

Acara ini menghadirkan empat narasumber yang membahas diabetes dan komplikasinya dari berbagai sudut pandang: medis konvensional, neurologi, pengobatan integratif, hingga pendekatan spiritual.

Tema pertama adalah Mengelola Diabetes Agar Saraf Tetap Sehat: Peran Kontrol Gula Darah dan Pengobatan yang disampaikan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Harry Andrean.

Dimana salam seminar tersebut, dr. Harry menjelaskan sifat dasar diabetes.

Menurutnya, diabetes bukan penyakit yang bisa sembuh instan seperti batuk pilek, melainkan kondisi kronis berkelanjutan yang harus dikelola seumur hidup.

“Diabetes itu penyakit kronis yang berkelanjutan namun dapat kita kontrol. Kontrol artinya gula darah terkontrol, pasien bisa menjalani kehidupan selayaknya orang sehat dengan syarat mengikuti anjuran kami. Mulai dari pengobatan non-obat, pola makan, aktivitas, dan kontrol rutin ke dokter,” ujarnya.

Ia menjelaskan, diabetes ditandai kadar gula tinggi secara terus-menerus dalam tubuh.

“Normalnya tubuh mengatur gula dalam batas normal. Tapi pada pasien diabetes, kadar gulanya tinggi terus-menerusan. Mau puasa pun dia tinggi. Itulah anehnya penyakit ini,” terangnya.

Lalu pada tema kedua menjelaskan mengenai ‘Kesemutan dan Kebas, Tanda Saraf Terganggu’ yang disampaikan oleh Dokter Spesialis Neuronogi, dr. Firstisa Nuzulia Krinseani.

**Baca Lainnya: 

Pertama di Banten, Benyamin Resmikan Poliklinik Holistik RS Hermina Serpong

dr. Firstisa memaparkan gejala neuropati yang kerap dialami pasien diabetes. Ia membedakan sensasi kesemutan dan kebas yang sering sulit dibedakan pasien.

“Kesemutan itu rasa seperti tertusuk jarum atau seperti ada semut yang jalan di ujung-ujung jari. Sedangkan kebas itu rasa baal, mati rasa. Seperti memegang sesuatu tapi terasa sudah lepas, atau pegang air panas tapi kurang terasa panasnya,” jelas dr. Tisa, sapaan akrabnya.

Ia menjelaskan bahwa kadar gula darah tinggi dalam waktu lama menyebabkan aliran darah ke ujung pembuluh darah di kaki dan tangan terganggu.

Akibatnya, suplai nutrisi dan oksigen ke sel saraf berkurang, menyebabkan kerusakan saraf dan gangguan hantaran informasi sensorik.

Pada materi ketiga, mengangkat tema ‘Integrative Medicine: Kolaborasi Konvensional dan Herbal’

Dokter dengan sertifikasi herbal, dr. Dian Elco Nara memperkenalkan konsep Integrative Medicine yang diterapkan di Poliklinik Holistik Lavender RS Hermina Serpong.

Ia menegaskan bahwa layanan ini menggabungkan pengobatan konvensional dengan komplementer berbasis bukti ilmiah.

“Integrative Medicine menggabungkan kedokteran konvensional dengan komplementer atau tradisional yang semuanya berbasis evidence. Mereka tidak saling menjatuhkan, justru berkolaborasi untuk meningkatkan kualitas hidup pasien,” jelasnya.

Ia mengklaim, untuk kawasan Jabodetabek-Banten, RS Hermina Serpong menjadi satu-satunya rumah sakit yang menerapkan integrative medicine murni dan kini menjadi percontohan Kementerian Kesehatan.

“Pasien saat ini sudah cerdas, literasinya bagus. Mereka tidak hanya ingin diobati, tapi ingin sembuh. Kami juga ingin memberikan literasi agar pemilihan terapi herbal tepat dan tidak asal beli di pinggir jalan yang tidak jelas kandungannya,” tegasnya.

Semua terapi herbal di poliklinik ini, lanjutnya, berbasis standar internasional dengan formularium yang teruji.

Edukasi diberikan agar pasien bisa menerapkannya di rumah dalam bentuk minuman fungsional atau makanan sehat.

Materi terakhir mengangkat tema ‘Ikhtiar Medis dan Spiritual: Sakit Itu Keren?’ dimana sesi itu diisi oleh dr. Agus Rahmadi dengan pendekatan spiritual. Ia mengajak pasien memaknai sakit secara berbeda.

“Yang tahu tentang manusia siapa? Yang menciptakan manusia. Dokter pun terbatas. Maka ikutilah aturan-aturan yang Allah tentukan,” ungkapnya.

Ia menyoroti pentingnya mengelola stres. “Obat jalan, pola makan jalan, tapi pikiran stres, tidak akan selesai. Padahal sakit itu keren. Kenapa? Karena sakit itu bukan kemauan kita, tapi kemauan Allah. Dan kemauan Allah pasti lebih baik dari kemauan kita,” paparnya.

Ia mencontohkan doa Ali bin Abi Thalib: “Kalau doaku dikabulkan Allah, aku senang. Tapi kalau tidak dikabulkan, aku lebih senang, karena itu keinginan Allah, dan keinginan Allah lebih baik dari keinginanku,” tutupnya.(ris)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *