Portalkota – Selama bertahun-tahun, keluhan paling keras dari warga desa adalah rasa ketidakadilan. Harga hasil panen di tingkat petani amat murah, tapi saat sampai di pasar, harganya melambung tinggi. Di situlah peran tengkulak sering kali dirasakan begitu dominan.
Tapi kabar baiknya, era itu perlahan akan berakhir. Presiden RI Prabowo Subianto baru saja meresmikan 1.061 Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih secara serentak di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Yang membuat gebrakan ini berbeda dari program-program sebelumnya: ini bukan sekadar seremoni potong pita. Ribuan koperasi ini sudah dilengkapi dengan fasilitas fisik yang nyata. Ada gudang penyimpanan, kendaraan logistik berupa truk dan pikap, hingga sistem distribusi yang terstruktur.
Baca Lainnya:
Menkomdigi: Balmon Ujung Tombak Jaga Ruang Digital Indonesia Tetap Aman
Pemutus Rantai Tengkulak, Petani Kini Bisa Jual ke Pasar Manapun
Presiden Prabowo dengan tegas menjelaskan bahwa kehadiran Kopdes Merah Putih adalah solusi konkret atas masalah klasik yang selama ini membelenggu petani: akses pupuk, permodalan, dan yang paling utama, distribusi hasil panen.
Dulu, banyak petani mengeluh kepada Presiden. “Pak, saya punya mangga yang terhebat di dunia tapi tidak ada yang beli. Tidak ada yang masuk kampung dia, padahal kampung dia itu 5-6 kilo ke dalam,” ujar Presiden menirukan keluhan yang sering ia dengar dikutip dari laman resmi Kemensetneg RI.
Kini, dengan Kopdes, desa memiliki kekuatan sendiri.
“Sekarang koperasi punya truk sendiri, punya pick up sendiri, dia tidak akan tergantung mana pun. Dia akan mengantar hasil panennya ke tempat yang dia kehendaki, ke pasarnya yang dikehendaki,” jelasnya.
Artinya, petani tidak lagi terpaksa menjual kepada tengkulak dengan harga murah karena tidak punya pilihan. Mereka bisa mengangkut sendiri hasil bumi ke pasar yang memberikan harga terbaik.
Bukan Menyaingi Warung Kecil, Justru Melengkapi
Masyarakat awam mungkin khawatir: apakah koperasi besar ini akan mematikan warung-warung kelontong atau pedagang kecil di desa? Tenang, tidak demikian. Kopdes Merah Putih hadir dengan fungsi yang berbeda.
Koperasi ini dirancang sebagai pusat layanan ekonomi masyarakat desa yang bersifat distributif dan suportif. Selain menjadi penyalur sembako dan pupuk bersubsidi, Kopdes juga akan melayani:
· Penyaluran gas untuk kebutuhan rumah tangga.
· Layanan kredit murah bagi warga desa.
· Distribusi bantuan pemerintah agar tepat sasaran.
· Apotek desa dengan harga obat yang terjangkau.
“Obat yang kita tekan sehingga semurah-murahnya bisa dicapai oleh rakyat di seluruh Indonesia,” tutur Presiden.
Jadi, Kopdes justru menjadi penambah layanan, bukan perampas rezeki pedagang kecil. Warung-warung lokal tetap bisa berjualan seperti biasa, bahkan bisa menjadi mitra distribusi koperasi.
Prestasi 7 Bulan: Dari Konsep ke Ribuan Bangunan Fisik
Yang tak kalah membanggakan adalah kecepatan realisasi program ini. Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa pembangunan fisik Kopdes dimulai sekitar November 2025. Artinya, dalam kurun waktu kurang dari tujuh bulan, pemerintah berhasil mengoperasionalkan 1.061 koperasi.
Bahkan, Menteri Koordinator Pangan melaporkan bahwa secara fisik, bangunan yang sudah siap mencapai lebih dari 9.000 unit, terdiri dari gedung, gudang, dan sistem pendukung.
“Ini prestasi bagi bangsa Indonesia. Memang bangsa Indonesia sudah terlalu lama dianggap remeh oleh bangsa-bangsa lain. Kita dianggap bangsa yang lemah, the soft state,” tegas Presiden.
Pemerintah tidak berhenti di angka 1.061. Presiden mengungkapkan bahwa target selanjutnya adalah melompat hingga 30.000 koperasi yang akan diresmikan pada bulan Agustus mendatang.
“Kalau umpamanya tidak sampai 30 ribu, kalau hanya sampai 20 ribu, saya katakan 20 ribu ini juga adalah prestasi yang saya kira jarang bisa ditemukan di negara lain,” ungkapnya.
Bangkit dari Rasa Rendah Diri, Percaya pada Kekuatan Sendiri
Dalam pidatonya yang menggetarkan, Presiden Prabowo juga menyentuh sisi psikologis bangsa. Menurutnya, terlalu lama Indonesia mengidap semacam rasa rendah diri.
“Kalau lihat semua yang berbau atau berasal dari luar, asing, kita condong, kita kagum. Condong kita lebih segan. Semua yang dari bangsa sendiri, kita condong untuk tidak percaya,” tutupnya.
Padahal, ketika diberi kepercayaan dan strategi yang tepat, bangsa Indonesia mampu berbuat luar biasa. Buktinya, swasembada pangan yang ditargetkan empat tahun, berhasil diwujudkan dalam satu tahun.
Baca Lainnya:
Pendapatan GBK 2025 Tembus Rp812 Miliar, Berkat Optimalisasi Aset dan Dukungan Publik
Mari Dukung Kebangkitan Ekonomi Desa
Kopdes Merah Putih adalah fondasi ekonomi baru yang dibangun langsung dari akar rumput. Dengan koperasi ini, desa tidak akan tergantung dari mana-mana lagi. Desa akan memiliki kekuatannya sendiri.
Yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat: gunakan layanan koperasi, belanjakan kebutuhan di Kopdes, dan sebarkan informasi positif ini agar semakin banyak warga desa yang sadar bahwa kini mereka punya alternatif.
Yuk, dukung kebangkitan ekonomi desa. Bareng-bareng kita jaga Indonesia, mulai dari kampung halaman kita sendiri.(uci)







