Portalkota – Ketua DPR RI, Puan Maharani, menyampaikan belasungkawa mendalam kepada para korban insiden kecelakaan kereta api (KA) jarak jauh dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Ia pun mengingatkan agar unsur keselamatan di jalur kereta harus ditingkatkan.
“Atas nama pribadi maupun atas nama DPR RI, saya sampaikan dukacita mendalam untuk para korban dalam kecelakaan kereta api yang terjadi semalam di wilayah Bekasi,” kata Puan dikutip dari laman resmi DPR RI, ditulis Rabu (29/4/2026).
Baca Lainnya:
Dari Sampah ke Nilai Ekonomi, Presiden Prabowo Perkuat Program TPST Nasional
Kronologi: Taksi Listrik Tertemper KRL, lalu KA Argo Bromo Tabrak dari Belakang
Seperti diketahui, insiden yang terjadi pada Senin (27/4) malam bermula saat taksi listrik ditabrak KRL di daerah Bulak Kapal karena taksi tersebut terhenti di tengah perlintasan sebidang. Taksi berada di area rel sebelum akhirnya tertemper KRL menuju arah Jakarta.
Kondisi itu menyebabkan perjalanan KRL dari Jakarta menuju Cikarang terganggu dan rangkaian berhenti di jalur. Tak berselang lama, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah belakang menabrak KRL yang tengah berhenti.
Saking kerasnya benturan, lokomotif KA Argo Bromo Anggrek sampai merangsek masuk ke badan gerbong khusus wanita yang berada di bagian paling belakang KRL. Insiden ini menyebabkan 14 orang meninggal dunia dan 84 lainnya terluka.
Puan: Perlintasan Sebidang Harus Disikapi Serius
Terkait hal ini, Puan menekankan pentingnya negara meningkatkan unsur keselamatan pada transportasi kereta api.
“Kita minta Pemerintah, KAI, bersama stakeholder terkait untuk lebih memprioritaskan persoalan keselamatan di jalur kereta api. Sistem dan keamanan pada jalur kereta api harus diperbaiki,” tegas politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.
“Terutama pada perlintasan sebidang yang masih banyak kita temukan di sepanjang perlintasan kereta. Karena keamanannya sangat kurang, kecelakaan kereta seringkali terjadi dan ini harus disikapi dengan serius,” tambahnya.
KRL: Infrastruktur Sosial yang Menopang Aktivitas Ekonomi
Puan memandang, kecelakaan ini tidak hanya menghadirkan duka karena jatuhnya korban jiwa, tetapi juga menempatkan kembali keselamatan transportasi publik sebagai ukuran utama kepercayaan masyarakat.
“Dalam sistem mobilitas perkotaan seperti Jabodetabek, KRL bukan sekadar moda angkut massal, melainkan infrastruktur sosial yang menopang ritme kerja, pendidikan, dan aktivitas ekonomi masyarakat setiap hari,” jelasnya.
“Karena itu, setiap insiden besar tidak hanya berdampak pada korban langsung, tetapi juga berpotensi memengaruhi persepsi masyarakat terhadap rasa aman menggunakan transportasi kereta,” tambah Puan.
Kompleksitas Jalur Padat: Ruang Toleransi Semakin Sempit
Lebih lanjut, Puan menilai kecelakaan ini memperlihatkan bahwa jalur padat metropolitan kini bekerja dalam tingkat kompleksitas yang semakin tinggi:
· Frekuensi perjalanan meningkat
· Jenis layanan berbagi lintasan yang sama
· Ruang toleransi terhadap gangguan semakin sempit
“Dalam kondisi seperti ini, keselamatan tidak cukup dilihat hanya sebagai kepatuhan prosedur operasional harian, tetapi harus hadir dalam bentuk standarisasi pengamanan yang mampu meyakinkan masyarakat bahwa setiap potensi risiko sudah diantisipasi,” paparnya.
Masyarakat Jangan Sampai Jera Naik KRL
Puan menekankan bahwa KRL harus tetap menjadi moda transportasi yang paling dapat dipercaya dari sisi keselamatan. Masyarakat tidak boleh dibiarkan berada dalam situasi ragu atau jera akibat kecelakaan yang menimbulkan kesan bahwa sistem proteksi belum cukup kuat.
“Justru setelah insiden seperti ini, operator dan pemerintah perlu menunjukkan bahwa standar keselamatan diperbarui secara nyata, terukur, dan dapat dipahami masyarakat,” ucapnya.
Baca Lainnya:
DPR RI Sebut Kecelakaan Bekasi Timur Alarm Keras Sistem Keselamatan Kereta Api Nasional
Investigasi Harus Hasilkan Pembelajaran Struktural
Puan mendorong agar investigasi atas kecelakaan tersebut menghasilkan pembelajaran struktural yang jelas.
“Dan hasil terpenting dari evaluasi ini adalah memastikan masyarakat melihat bahwa menggunakan KRL tetap merupakan pilihan transportasi yang aman, rasional, dan didukung oleh sistem keselamatan yang terus diperkuat,” tutupnya.(uci)












