Portalkota – Gubernur Banten Andra Soni mendorong setiap sekolah di Provinsi Banten untuk melakukan gerakan menanam, baik di lahan secara langsung maupun melalui media polybag.
Hal ini penting dilakukan untuk menumbuhkan budaya menanam sejak dini di kalangan siswa.
Selain sebagai media edukasi agar mendapatkan hasil tanam yang optimal, gerakan menanam harus didampingi oleh seorang mentor yang berpengalaman.
Dengan demikian, pembelajaran menanam di sekolah dapat diterapkan oleh para siswa di rumah masing-masing.
Hal itu diungkapkan Andra Soni saat melepas keberangkatan 21 petani milenial asal Banten yang akan magang di Jepang. Pelepasan dilakukan di Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, Kamis 9 April 2026.
Baca Lainnya:
Mudahkan Pedagang, POLI Perizinan Hadir di Pasar Tradisional Serang
Kisah Inspiratif dari Petani Lebak
Pada kesempatan itu, turut hadir Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bunga, Desa Tambak Baya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, Ruhyana.
Di depan Gubernur Andra Soni, Ruhyana menceritakan upayanya mengedukasi para pelajar untuk gemar menanam.
Berbekal pengalaman bertani lebih dari 30 tahun, pria yang akrab disapa Yana ini membuka lahan pertanian seluas 1.000 meter untuk dijadikan media edukasi holtikultura bagi para pelajar.
Untuk memperluas penyebaran program itu, di sela-sela aktivitas pertaniannya, Yana berkeliling ke sekolah-sekolah.
“Saya bersama teman-teman dari komunitas Urban Farming menyediakan lahan di rumah sekitar 150 hektare dibagi delapan Gapoktan. Sementara untuk yang dijadikan lahan edukasi pertanian itu sekitar 4.000 meter, terdiri dari tanaman padi, ikan, ternak, dan kebun 1.000 meter yang ditanami berbagai jenis sayuran,” katanya.
Bertani di Lahan Terbatas, Hasil Mencapai Rp3 Juta per Bulan
Kepada anak-anak muda dan pelajar, Yana mengedukasi bahwa bertani tidak harus di lahan yang luas.
Di lahan 1.000 meter atau bahkan di pekarangan rumah pun bisa dilakukan dengan penghasilan sekitar Rp3 juta dalam satu bulan.
“Kerjanya juga hanya 60 jam dalam sebulan dan kerjanya santai, 2 jam per hari cukup, termasuk tanamannya juga mudah perawatannya seperti kangkung, bayam, dan pakcoy,” jelasnya.
Andra Soni Apresiasi Gerakan Edukasi Menanam
Andra Soni menyambut baik apa yang dilakukan oleh Ruhyana. Menurutnya, di tengah situasi geopolitik global saat ini, banyak negara yang khawatir akan kondisi ketahanan pangan.
Bagi Indonesia, khususnya Provinsi Banten, kekhawatiran krisis pangan seharusnya tidak terjadi.
Sebab, Indonesia dianugerahi kondisi alam yang sangat subur dan bisa melakukan tanam kapan pun. Tinggal bagaimana kemauan untuk menanam itu kita perkuat.
“Gerakan yang dilakukan Mang Yana itu sudah sangat bagus dengan memberikan edukasi gemar menanam kepada para siswa,” katanya.
Instruksi ke OPD untuk Tindak Lanjut
Andra Soni meminta kepada Kepala OPD terkait, seperti Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Ketahanan Pangan, serta Dinas Pertanian, untuk menindaklanjuti program itu.
Untuk tahap awal, Dinas Pendidikan bisa menunjuk beberapa sekolah yang mempunyai lahan cukup luas untuk dijadikan percontohan.
“Tetapi tetap dilakukan pendampingan oleh Mang Yana agar ada proses pembelajaran di sana dan hasilnya juga bagus,” terangnya.
Target Perluasan ke Seluruh Sekolah
Setelah berhasil diterapkan, program itu harus diperluas ke seluruh sekolah, utamanya sekolah yang menjadi kewenangan provinsi, baik negeri maupun swasta yang sudah bekerja sama dengan Pemprov Banten.
“Ini tidak untuk dijual, yang penting bisa tumbuh budaya menanam di setiap siswa. Sehingga itu bisa menjadi salah satu bekal mereka ketika lulus nanti,” tutupnya.
Baca Lainnya:
Kukuhkan BPWI Banten, Wagub Ajak Perempuan Produktif Berwirausaha
Dengan gerakan menanam di sekolah, Gubernur Andra Soni berharap budaya ketahanan pangan dapat ditanamkan sejak dini kepada generasi muda Banten, sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi tantangan pangan di masa depan.(uci)











