Yayasan Kawan Lama Tingkatkan Pendapatan Penenun Dayak Iban hingga 360 Persen

Portalkota – Yayasan Kawan Lama mencatat keberhasilan signifikan melalui program Aram Bekelala Tenun Iban di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Dalam satu tahun pelaksanaan, program pemberdayaan perempuan ini berhasil meningkatkan rata-rata pendapatan penenun Dayak Iban hingga 360 persen.

Program yang dijalankan di empat dusun ini berfokus pada peningkatan kapasitas perempuan penenun melalui pelatihan terstruktur, pengembangan produk tenun berbasis nilai budaya, serta pembukaan akses pasar berkelanjutan untuk memperkuat kemandirian ekonomi komunitas.

Ketua Yayasan Kawan Lama Tasya Widyakrisnadi menyampaikan bahwa program ini dirancang sebagai upaya jangka panjang untuk memperkuat kemandirian komunitas penenun Dayak Iban.

“Melalui peningkatan kapasitas, pendampingan berkelanjutan, serta pembukaan akses pasar, kami ingin memastikan bahwa pelestarian budaya berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat, sehingga manfaat program dapat dirasakan secara berkelanjutan,” ujar Tasya dalam keterangan resminya, ditulis Minggu (1/3/2026).

Baca lainnya:

DPR RI Usul THR Dibayar Dua Minggu Sebelum Lebaran, Ini Alasannya

Apresiasi Pemerintah Daerah

Wakil Bupati Kapuas Hulu Sukardi mengapresiasi program Aram Bekelala Tenun Iban yang dinilai membuka ruang bagi perempuan penenun untuk meningkatkan kapasitas dan kemandirian ekonomi.

“Program ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mendorong pemberdayaan perempuan dan penguatan ekonomi berbasis potensi lokal. Tenun Dayak Iban tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga sumber penghidupan yang perlu terus dikembangkan agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” jelasnya.

Inovasi Motif dan Pewarna Alami

Dari sisi pengembangan produk, program Aram Bekelala Tenun Iban mendorong inovasi desain dan pewarnaan alami berbasis nilai budaya Dayak Iban. Inovasi ini mencakup:

· Pengembangan lima motif baru tenun
· Pendokumentasian 58 motif tenun sebagai upaya pelestarian warisan budaya
· Perluasan teknik pewarnaan alami dari 6 menjadi 69 variasi warna berbahan tanaman lokal

Bahan-bahan alami yang digunakan antara lain ketapang, daun kratom, kayu tebelian, dan 20 jenis tanaman lokal lainnya.

Inovasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas dan daya saing produk, tetapi juga membuka potensi penciptaan lapangan kerja baru serta pengembangan industri pewarna alam berbasis komunitas.

Pengakuan Nasional dan Internasional

Karya tenun binaan program ini telah memperoleh pengakuan di tingkat nasional dan internasional melalui partisipasi dalam sejumlah ajang bergengsi, antara lain:

· Fashion Nation XIX
· Jakarta Fashion Week 2026
· World Expo Osaka 2025

Program ini juga menjalin kerja sama dengan Cita Tenun Indonesia serta desainer Wilsen Willim untuk memperluas jangkauan pasar.

Untuk memperkuat distribusi, program mendorong penenun melalui proses kurasi dan penjajakan ke kanal distribusi Pendopo sebagai bagian dari penguatan rantai nilai produk berbasis budaya.

Testimoni Penenun Binaan

Salah satu penenun binaan, Kristina Anyun, mengungkapkan bahwa program ini membawa perubahan nyata bagi dirinya dan komunitas.

“Melalui pelatihan dan pendampingan yang kami terima, kami tidak hanya belajar meningkatkan kualitas tenun, tetapi juga lebih percaya diri dalam mengelola dan memasarkan hasil karya kami. Sekarang, kami merasa memiliki bekal untuk terus mengembangkan usaha tenun secara mandiri,” jelasnya.

Keberlanjutan Program

Ke depan, program Aram Bekelala Tenun Iban akan terus dilanjutkan sebagai inisiatif jangka panjang Yayasan Kawan Lama. Pada tahun 2026, program ini akan berfokus pada:

· Penguatan kualitas tenun melalui pengembangan desain dan teknik
· Eksplorasi pewarna alam baru
· Peningkatan kapasitas pemasaran dan perencanaan bisnis penenun

“Pemberdayaan perempuan penenun berbasis budaya kami yakini sebagai fondasi penting dalam menciptakan peluang ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” tutupnya.

Program Aram Bekelala Tenun Iban membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat, sekaligus memberdayakan perempuan sebagai penggerak utama keberlanjutan tradisi tenun Dayak Iban.(uci)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *