Pasien Parkinson Ingin Puasa? Ini Penjelasan dari Dokter Saraf RS EMC Alam Sutera

Portalkota – Menjelang bulan suci Ramadan, pertanyaan seputar boleh tidaknya pasien Parkinson menjalankan ibadah puasa kerap mengemuka.

Dokter spesialis saraf dari RS EMC Alam Sutera, dr. Gloria Tanjung, Sp.N, memberikan penjelasan medisnya.

Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif kedua terbanyak di dunia. Kondisi ini menyerang 2 dari 100 orang berusia di atas 60 tahun, meski tak jarang ditemukan pula pada kelompok usia muda.

Gejalanya meliputi gerakan melambat, tremor, dan kekakuan otot yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Penyakit ini terjadi akibat penurunan kadar dopamin di otak. Obat utama yang digunakan adalah levodopa, yang bekerja sebagai prekursor dopamin.

Sayangnya, obat ini hanya bertahan 3-4 jam dalam tubuh, sehingga pasien perlu mengonsumsinya lebih dari tiga kali sehari.

**Baca Lainnya:

Dokter Spesialis Anak RS Premier Bintaro Jelaskan Bedanya Gumoh Biasa dan GERD

Lantas, apakah pasien Parkinson boleh berpuasa?

Menurut dr. Gloria, jawabannya bergantung pada kondisi klinis masing-masing pasien.

1) Risiko puasa bagi pasien Parkinson
Penghentian mendadak obat Parkinson saat puasa dapat memicu perburukan gejala, seperti kekakuan ekstrem hingga kesulitan bergerak total (freezing). Pasien yang biasa minum obat lebih dari tiga kali sehari akan mengalami fluktuasi motorik karena hanya bisa minum obat saat sahur dan berbuka.

Sebaliknya, mengonsumsi dosis berlebihan sekaligus saat berbuka juga berisiko memicu diskinesia, yakni gerakan abnormal akibat lonjakan dopamin yang tiba-tiba tinggi di otak.

2) Konsultasi ke dokter jadi kunci
Setiap pasien memiliki tingkat keparahan yang berbeda. Dokter perlu melakukan asesmen komprehensif sebelum memutuskan apakah pasien boleh berpuasa.

· Parkinson ringan: umumnya dapat berpuasa dengan penyesuaian obat berdurasi panjang.
· Parkinson sedang: bisa berpuasa dengan modifikasi dosis dan jadwal obat.
· Parkinson berat: berisiko tinggi, hanya direkomendasikan jika dikombinasikan dengan terpsi lanjutan (advanced therapy).

3) Modifikasi obat sebelum Ramadan
Bagi pasien yang diizinkan berpuasa, evaluasi dan penyesuaian jenis serta dosis obat sebaiknya dilakukan sebelum Ramadan tiba. Hal ini penting agar tubuh punya waktu beradaptasi dengan regimen baru.

“Melakukan ibadah puasa merupakan tantangan bagi pasien Parkinson. Bukan berarti tidak mungkin, tapi kita harus pastikan kondisi mereka optimal dan aman,” ujar dr. Gloria.

dr. Gloria mengimbau pasien Parkinson yang berencana berpuasa untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis saraf guna mendapatkan penyesuaian terapi yang tepat.(uci)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *